coba

Monday, 22 June 2015

makalah emping jagung

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merupakan masyarakat dalam suatu wilayah, pada era otonomi daerah unit wilayah tersebut dapat berupa desa atau kelurahan. Agar UMKM tersebut dapat berjalan dengan baik, maka masyarakat harus mendapatkan umpan balik dari kegiatan produktif yang dilakukannya. Berkaitan dengan aktivitas ekonomi, umpan balik berarti peningkatan pendapatan atau memberikan nilai tambah. Sehingga merangsang kegiatan produktif yang dilakukan oleh masyarakat secara tradisional (secara terus menerus telah biasa mereka lakukan). Dengan demikian, kegiatan ekonomi tersebut dapat berjalan secara berkelanjutan dan bahkan diharapkan dapat meningkat secara bertahap.
Dari beberapa sudut pandang, UMKM dapat dikelompokkan menjadi beberapa kriteria usaha. Yaitu usaha yang digunakan sebagai kesempatan kerja untuk mencari nafkah, yang lebih umum dikenal sebagai sektor informal, usaha yang memiliki sifat UMKM di negara berkembang, seperti di Indonesia, sering dikaitkan dengan masalah-masalah ekonomi dan sosial dalam negeri seperti tingginya tingkat kemiskinan, besarnya jumlah pengangguran, ketimpangan distribusi pendapatan, proses pembangunan yang tidak merata antara daerah perkotaan dan perdesaan, serta masalah urbanisasi. Perkembangan UMKM diharapkan dapat memberikan kontribusi positif yang signifikan terhadap upaya-upaya penanggulangan masalah-masalah tersebut di atas.
Kegiatan ekonomi yang melibatkan UMKM di suatu wilayah sangat bervariasi, baik ditinjau dari jenis usaha yang dikembangkan, tenaga kerja yang terlibat, dan kemampuan permodalannya. Setiap komponen/anggota masyarakat harus secara aktif terlibat dan mengambil peran dalam gerakan pembangunan berdasarkan prinsip-prinsip keberdayaan diri sendiri. Dengan demikian setiap individu berhak dan wajib menyumbangkan potensinya dalam gerakan pembangunan tersebut

Kelembagaan ekonomi dikembangkan sesuai dinamika kemajuan ekonomi dengan menerapkan prinsip-prinsip tata kelola pemerintah daerah yang baik; menjaga persaingan usaha secara sehat dan perlindungan konsumen; mendorong pengembangan standarisasi produk dan jasa untuk meningkatkan daya saing; merumuskan strategi dan kebijaksanaan pengembangan teknologi sesuai dengan pengembangan ekonomi daerah; dan meningkatkan daya saing usaha mikro,  kecil dan menengah (UMKM) di berbagai wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara sehingga menjadi bagian integral dari keseluruhan kegiatan ekonomi dan memperkuat basis ekonomi daerah.
 Pengembangan UMKM diarahkan untuk menjadi pelaku ekonomi yang semakin berbasis iptek, dan berdaya saing dengan produk impor khususnya dalam penyediaan barang dan jasa kebutuhan masyarakat banyak, sehingga mampu memberikan kontribusi yang signifikan dalam perubahan struktural dan memperkuat perekonomian daerah. Untuk itu, pengembangan UMKM dilakukan melalui peningkatan kompetensi perkuatan kewirausahaan dan peningkatan produktivitas yang didukung dengan upaya peningkatan adaptasi terhadap kebutuhan pasar, pengembangan UMKM secara nyata akan berlangsung terintegrasi dalam modernisasi agribisnis dan agroindustri, termasuk yang mendukung ketahanan pangan, serta perkuatan basis produksi dan daya saing industri melalui pengembangan rumpun industri, percepatan alih teknologi, dan peningkatan kualitas SDM.
Yang perlu diperhatikan, suatu program atau perencanaan strategi haruslah dilaksanakan secara integrasi, yaitu tidak dilaksanakan oleh hanya satu pihak saja. Program disusun sebagai acuan pemerintah daerah agar upaya pemberdayaan berjalan tepat sasaran, meliputi: tepat waktu, tepat lokasi, tepat jumlah, dan tepat kualitas. Pemberdayaan UMKM guna pengembangan ekonomi dan dunia usaha memerlukan data dan informasi berupa kondisi aktual struktur jenis usaha dan iklim usaha yang ada dimasyarakat, agar kebijakan yang diambil dapat efektif. Berdasarkan latar belakang seperti yang sudah dikemukakan, maka penelitian ini dilakukan. Selanjutnya, data dan informasi  tersebut digunakan sebagai dasar penyusunan kebijakan guna mengembangkan ekonomi dan dunia usaha di Kabupaten Kutai Kartanegara.
1.2  RUMUSAN MASALAH
1.      Bagaimana profile usaha Emping Jagung ?
2.      Apa saja bahan dan peralatan yang digunakan ?
3.      Bagaimana cara pembuatan Emping Jagung ?

1.3   TUJUAN MASALAH
1.      Menjelaskan profile usaha Emping Jagung.
2.      Mengetahui bahan dan peralatan yang digunakan.
3.      Menjelaskan proses cara pembuatan Emping Jagung.






BAB 2
PEMBAHASAN
PROFILE UMKM DESA SINGOCANDI
1.      Makanan Ringan Emping Jagung
VISI                : Mendapatkan keuntungan yang banyak dari bisnis ini dan bisa             mencukupi kebutuhan keluarga.
MISI               : Mengenalkan hasil olahan dari jagung yaitu emping jagung, keseluruh Kota Kudus agar Desa Singocandi lebih terkenal dengan hasil olahan tersebut.
https://encrypted-tbn3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSKEaf7OI6NbWccJR6X3jhakFMTBHQnN0XCAZbVaRIphnAYqCwL 
Nama pemilik              : Bapak H.Toyyib
Nama UMKM             : Dyah Ayu Amallia
Alamat                        : Singocandi Rt 04/02
Produk usaha              : Emping Jagung (Marning)                                                                          
Merek                          : “DUA MERPATI”
Tahun berdiri               : 1981
Modal awal                 : Modal dari tabungan sendiri
Jumlah karyawan        : 15 Perempuan  : 9
                                           Laki-laki      : 6
                                         (Pendidikan rata-rata tamatan SMP dan SMA)

Omset                          : Rp 500.000 /hari
                                          500.000 x 26 hari = Rp 13.000.000


Beban pengeluaran      :           1. Membayar beban gaji @23000
                                                2 Membeli bahan baku                       
                                                 
Wilayah pemasaran  :  Sekitar Kabupaten Kudus

Cara pemasaran         : 1. Dengan membuka toko dirumah dan toko di dekat kota  
                                  2. Bakul datang sendiri ke pabrik pembuatan
                                  3. Pembeli datang langsung ke pabrik pembuatan
                                  4. Selain emping jagung banyak juga  yang dibuat di pabriknya      
                                     misalnya, makaroni, unter-unter, semprit, kacang polong, talas,                kripik singkong dll.

Kendala                     : Pada saat hujan tidak bisa mengeringkan jagung dengan sempurna,      hasilnya kurang memuaskan, begitupun kayu bakarnya kalau basah.
                                    Banyak saingan disekitar desa singocandi






Bahan dan peralatan
Bahan baku :
1.      Jagung
2.      Cabe
3.      Gula
4.      Kayu bakar
5.      Minyak goreng

Peralatan :
1.      Kompor besar
2.      Panci besar
3.      Wajan besar
4.      Pempipihan
5.      Penyaringan dll.










Cara pembuatan Emping Jagung :
1.      Menyeleksi jagung yang kualitasnya, bentuk, dan warnanya yang baik. Jangan sampai memilih yang jamuran.
2.      Mencuci jagung hingga bersih, jangan sampai ada benda atau bahan lain yang ada didalamnya.
3.       Lalu jagung direbus tambah kapur 2-4% selama satu jam.
4.      Setelah matang jagung tadi dicuci dengan air bersih, biar zat kapur didalamnya hilang.
5.      Jagung dikukus selama 1 jam.
6.      Setelah matang jagung yang sudah di kukus lalu d gencet/ di pipihkan pada saat jagung dalam keadaan panas, biar mudah digencet kalo dalam keadaan panas.
7.      Jagung yang sudah di gencet lalu di jemur di bawah terik matahari selama 1-2 hari (kalau cuacanya mendukung).
8.      Setelah kering jagung tersebut digoreng dengan bumbu-bumbu yang diingikan.









BAB 3
PENUTUP

3.1   Kesimpulan
Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merupakan masyarakat dalam suatu wilayah, pada era otonomi daerah unit wilayah tersebut dapat berupa desa atau kelurahan. Agar UMKM tersebut dapat berjalan dengan baik, maka masyarakat harus mendapatkan umpan balik dari kegiatan produktif yang dilakukannya. Berkaitan dengan aktivitas ekonomi, umpan balik berarti peningkatan pendapatan atau memberikan nilai tambah. Sehingga merangsang kegiatan produktif yang dilakukan oleh masyarakat secara tradisional (secara terus menerus telah biasa mereka lakukan).

No comments:

Post a Comment